Jumat, 25 Desember 2009

salahkah?


Salahkah?

Suci, seorang gadis cantik nan sederhana yang tinggal di lingkungan yang jauh dari keramaian yang sangat mendambakan cinta dan kasih sayang.

Suatu saat dia bertemu dengan seseorang di persimpangan, seorang laki-laki yang terlihat sangat baik dan lembut, laki-laki itu menghampirinya seraya menyapa dan mengajaknya berkenalan. “Andi…namaku”.dia laki-laki pertama yang menyapanya, sangat sopan. Semakin sering bertemu semakin ia tertarik dengan Andi dan akhirnya iapun berpacaran dengan Andi.

Tiga bulan berjalan, kisah cinta suci mulai teerlihat pudar, andi yang tadinya lembut dan baik, berubah menjadi kasar dan pemarah. Suci sedih, hingga terjadi pertengkaran hebat yang menyebabkan cinta mereka harus putus di tengah jalan. Suci tak mengerti, mengapa andi berubah setelah apa yang andi minta telah ia berikan, dia rela memberikan kehormatan yang ia pelihara, dia telah terkena rayuan andi yang berkedok kebaikan semata, “Kita melakukannya karena cinta” begitulah andi merayunya. Dan karena cinta, suci rela lakukan semua itu. Lalu salahkah?

Suci berjalan di samping kiri jalan dengan tatapan mata yang kosong, seolah tiada lagi kehidupan di dalam jiwanya. Tiba-tiba sebuah mobil meluncur dengan kecepatan tinggi mendadak berhenti dan membunyikan klakson panjang. Suci terhenyak dan tersadar bahwa ia sedang menyeberang tanpa melihat kearah jalan. Lalu keluarlah seorang laki-laki berparas tampan menghampirinya dan memarahinya, Suci tak mengerti apa yang dkatakannya, tiba-tiba mata Suci jadi kabur dan Ups, Suci terjatuh pingsan.

Kicau burung bersahutan membuat Suci terbangun dan kebingungan karena ia tak mengenal ruangan yang luas dan nyaman tempat ia tertidur. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang dengan nampan berisikan makanan yang enak lengkap dengan buah segar dan segelas susu serta satu stel pakaian yang terlihat mahal, wanita itu tersenyum dan dengan lembut ia berkata “tuan saya menunggu non di teras taman”. Ternyata rumah yang semewah itu hanya ditinggali seorang laki-laki muda dan seorang pembantu. Hmmm….

“semalam kamu pingsan dan saya bingung kemana saya harus mengantar, maka saya membawa kamu kemari, saya Anto, kamu terlihat banyak permasalahan.” Sambutnya memulai perkenalan. Mereka asyik berbincang-bincang, hingga akhirnya mereka begitu dekat, Suci sangat sumringah, semangatnya bangkit kembali, ia telah lupa kalau ia sedang bersedih seminggu yang lalu. Suci tak ingin keindahan yang sedang dijalaninya berlalu dengan cepat. “Finally I found the true love, I think…”gumamnya tertawa-tawa sendiri. Karena ia berfikir bahwa cinta bukanlah kata-kata, tetapi suatu tindakan, tak mungkin ini namanya bukan cinta. Suci tak ingin mengetahui hal lain selain yang namanya cinta, “karena hanya inilah yang kubutuhkan.” Anto mengajak nya candle light dinner, “Hari ini hari terpenting dalam hidupku, maukah kamu bersamaku satu malam saja, sayang?” pinta anto dengan mesra. “Oh My GOD, saat inilah yang kurasa teramat indah, yah aku mau……”Suci hanya mengangguk setuju. Satu jam setelah itu, Anto mengajaknya pergi ke kamar hotel mewah yang telah dipesan sebelumnya. Dan… malam itu malam yang terindah bagi mereka, tentunya. Anto berbisik lembut “thanks for tonite”, dan Suci membalikkan badannya dan bertanya “sayang, cintakah kau padaku?”. Sunyi….tak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibir Anto,ia beranjak pergi dan meninggalkan Suci sendiri di kamar mewah itu. Suci tertegun, bingung dengan situasi seperti ini. “Aku hanya ingin tahu….” Salahkah?

Hari demi hari Suci menanti sebuah jawaban dari Anto yang tak pernah kunjung datang setelah malam itu. Sedih,kembali menghampirinya, hati Suci tersayat, menangis tiada henti. “Tuhan, adakah cinta untukku?” Anto telah hilang ditelan bumi. Tapi Suci tak mau putus harapan, ia berusaha keras melupakan dua masa lalunya yang teramat ironi. Dia mencari kesibukan diri dengan kegiatan yang sangat padat. Pagi hari bekerja dan malamnya pergi bersama teman, terus dan terus begitu. Hingga akhirnya ia kembali bertemu dengan laki-laki yang ia rasa telah mengerti keadaannya, sebut saja Deni, pria biasa, tidak terlalu tampan namun pengertian dan telah lama menjalin hubungan persahabatan.

Seringnya curhat membuat mereka semakin akrab dan hampir sering bersama layaknya bara dan api, dimana ada Suci, di situlah Deni ada, bahkan Suci sering bermalam di rumah Deni. Mereka sudah tidak seperti layaknya sahabat. “Apalah artinya cinta kalau berakhir dengan kesedihan, dan aku tak mau memikirkannya” ucap Suci kepada Deni, dan Denipun menyetujuinya. Salahkah?

Suara weker berbunyi keras memekakan telinga, dan membangunkan keduanya, Suci terlambat masuk kerja, Deni sedang Off, dan Sucipun pergi seorang diri dan sangat tergesa-gesa. Dia gelisah di trotoar jalan menunggu taksi yang tak kunjung datang. “Damn! Boss marah besar nih! “, akhirnya taksi yang ditunggu telah datang, tanpa fikir panjang dia langsung naik dan menyuruh sopir taksi mempercepat jalannya. Setelah sampai, ia heran mengapa teman-temannya sibuk mempersiapkan diri seperti akan menyambut kedatangan orang yang sangat penting. Dan datanglah sebuah mobil mewah berhenti persis di depannya. Suci berdecak kagum melihat sosok tegap yang keluar dari mobil tersebut. “Ya Tuhan, Kau ciptakan seorang pria yang sangat tampan, tapi tak mungkin dia melirikku krena keadaan sosialpun kami sudah jauh berbeda.” Ungkapnya dalam hati. Jam kerja telah dimulai, datanglah Titi menghampiri dan menyuruh Suci ke ruangan Direktur. Suci gugup dan yakin pasti terkena hukuman. Setelah masuk ruang Direktur dengan pasrah, tiba-tiba jantungnya berdetak hebat ketika senyuman sang arjuna tertuju padanya. “Suci, bisa bantu saya tidak, ini bapak Julian, tolong bantu bapak ini, beliau klien baru kita, berikan data-data yang beliau butuhkan, bisa kan?” tanpa menunggu lagi, Suci langsung menyanggupinya.

Bekerja sama dngan klien baru yang tampan memang bukan impiannya, tapi entah mengapa Suci sangat tergila-gila, Ia lupa dengan masa lalunya, lupa dengan Deni yang selalu setia bersamanya, “Julian…. Andai kamu tahu…”. Julian sangat pintar memperlakukan wanita, dia memberikan apa yang wanita inginkan, kebahagiaan… “ I think I love you, honey…would you like to be my guest in my heart?”. wanita mana yang takkan luluh hatinya mendengar kata-kata seindah itu. Apalagi seorang Suci yang mendambakan kata cinta dari pria yang dicintainya. Lalu berhakkah suci menerimanya?

Berita tentang hubungan Suci dengan Julian tersebar dengan cepat dan telah sampai ke telinga Deni, Deni sedih, terlupakan, dan lalu menghilang tanpa Suci tahu, karena Suci tak ingin kehilangan Julian, ia tak ada waktu untuk memikirkan hal yang lainnya.

Setahun, dua tahun, dan sekarang telah berjalan 3 tahun, Suci telah mereguk kebahagiaan yang dinantinya bersama Julian, ia telah lupa siapa, darimana dia berasal, dan bagaimana dia menjalani hidup. Suatu hari ia mendapat khabar dari Titi teman sekantornya dulu, bahwa sebenarnya Titi telah lama mencari Suci, karena ingin memberitahukan bahwa Deni telah menitipkan sepucuk surat untuk Suci, setahun yang lalu, Suci terhenyak,dan ternyata ia betul-betul lupa tentang Deni, yang dulu sangat setia dengannya, bahkan ia hampir sulit mengingat wajah Deni.

Keesokan harinya Suci menemui Titi, setelah Titi selesai bercerita, Suci menitikkan air mata penyesalan, Suci ingin segera pergi menemui Deni, namun Titi menghalangi dan berkata, “lupakan dia, dan raihlah kebahagiaanmu, dan isi surat ini adalah isi hatinya sejak kamu tinggalkan dia”. Dengan cepat Suci membuka isi surat tersebut, dan… isinya sangat singkat, jelas, dan sangat menusuk hati. “Sayang, aku mengerti, bersamaku kamu tak pernah peduli tentang cinta, namun kamu sangat berharga bagiku, kau takkan pernah tahu, kalau cinta seorang sahabat adalah abadi dan suci seperti namamu, walau suatu saat aku takkan pernah bersamamu…..lalu, salahkah?”.

Setelah selesai membacanya,Suci Terpaku,bayangan Deni mulai tersirat di benak suci, saat-saat indah bersama Deni, saat-saat terakhir Suci meninggalkannya, Deni sempat berkata, “Sungguh aku sangat mencintaimu, dan kalau sekarang aku baru berterus terang, Salahkah?”sangat lantang namun suci hampir tak mendengarnya, karena Suci terlalu bahagia dengan cinta yang diberikan Julian. Kini semuanya sudah terlambat, deni telah pergi dan menghilang entah kemana, haruskah perjalanan cinta seorang Suci seperti ini? Menggapai cinta suci dan sejati yang telah dicarinya dengan penuh perjuangan, yang terlalu sedih untuk dilupakan, yang terlalu indah untuk dikenang, yang terlalu mahal untuk digantikan. Dan bila Suci menginginkan kebahagiaan diakhir kisah cintanya, walau harus ada yang tersakiti, Salahkah?

Suci sangat terpukul, dan ia tak henti-hentinya menangis, dan akhirnya iapun pulang ke rumah, tempat Julian dan si kecil nan lucu yang telah menantinya sejak pagi, Sucipun langsug merangkul, memeluk mereka dengan erat, “I really love both of you ”.

Kata CINTA bagi sebagian orang adalah penting, terlalu penting, bahkan tidak penting sama sekali, namun tak semua orang mendapatkannya dengan semudah kata CINTA yang menawarkan bermacam-macam rasa, adalah kebahagiaan, kekayaan, keindahan, kesedihan, kepalsuan dan pengertian. Namun semua itu akan dan telah didapatkan seiring dengan WAKTU. Ya, biarkan waktu yang membawa cinta.

Golden fact of life

When some one loves you, you don’t realize it, when you realize it’s too late, you always love the one who leaves you and you leave the one who loves you

created by KIREINA YOS SRI HARTATI,

DEDICATED TO BELOVED WHO LIVES IN MY HEART

2 komentar: